Dari Posyandu ke Meja Makan: Hari Pertama Mahasiswa UM BBM Kelompok 2 Bersama Warga Dusun Pangganglele
Arjowilangun, 20 Juni 2026. Pagi itu udara masih segar ketika 15 mahasiswa UM BBM Kelompok 2 Dusun Barisan bersiap untuk hari yang ternyata akan menjadi salah satu hari paling berkesan di awal masa pengabdian mereka. Satu rekan berhalangan hadir karena mewakili universitas dalam perlombaan, namun semangat kelompok tidak sedikit pun surut. Berbekal koordinasi sebelumnya bersama Bidan Aris, tenaga kesehatan yang selama ini menjadi ujung tombak layanan kesehatan di desa, seluruh anggota kelompok dikerahkan untuk membantu pelaksanaan posyandu di Balai Dusun Pangganglele.
Kegiatan dimulai tepat pukul 08.00 WIB. Posyandu pertama ini tergolong padat karena melayani dua kelompok sekaligus: balita dan lansia. Para ibu membawa anak-anak mereka untuk ditimbang dan diukur tinggi badannya, sementara di sisi lain balai, para lansia mengantri dengan sabar menunggu giliran pemeriksaan tekanan darah dan cek kadar gula darah. Di tengah kesibukan itu, mahasiswa langsung mengambil posisi: ada yang membantu pencatatan daftar hadir, ada yang mencatat hasil pengukuran tinggi dan berat badan, ada pula yang mendampingi pembagian Makanan Bergizi Gratis (MBG) kepada balita yang sudah selesai diperiksa. Bukan sekadar berdiri dan menyaksikan, mereka benar-benar masuk ke dalam alur pelayanan dan merasakan sendiri bagaimana posyandu bekerja sebagai tulang punggung kesehatan komunitas di tingkat dasar.
Ketika jarum jam mendekati pukul 09.30 WIB dan posyandu pertama masih berlangsung, 5 mahasiswa sudah harus bergerak lebih dahulu. Mereka diutus menuju lokasi posyandu kedua yang juga berada di Dusun Pangganglele, sementara rekan-rekan yang lain tetap bertahan menyelesaikan tugasnya di posyandu pertama hingga selesai, baru kemudian menyusul. Posyandu kedua ini khusus melayani balita, namun dengan cakupan pemeriksaan yang lebih menyeluruh. Selain tinggi badan dan berat badan, dilakukan pula pengukuran lingkar kepala dan lingkar lengan, dua indikator yang sangat penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak dan deteksi dini stunting. Satu per satu balita diperiksa dengan teliti, dan mahasiswa kembali hadir di setiap sudut proses: mencatat, mendampingi, dan memastikan pembagian MBG berjalan lancar hingga anak terakhir terlayani.
Namun kejutan terbaik hari itu datang justru setelah semua kegiatan posyandu selesai. Ibu-ibu posyandu mengajak seluruh mahasiswa untuk duduk bersama dan makan siang. Di atas tikar dan meja sederhana, tersaji hidangan yang terasa jauh lebih istimewa dari penampilannya: nasi tiwul dan nasi jagung yang pulen, sambal yang menggugah selera, tahu goreng hangat, dadar jagung yang gurih, dan ikan asin yang ternyata menjadi primadona di antara semua lauk yang ada. Suasana makan siang itu riuh oleh obrolan dan tawa, antara mahasiswa yang baru beberapa hari mengenal desa ini dan ibu-ibu yang sudah bertahun-tahun menjadi penggerak kesehatan di lingkungan mereka. Kehangatan yang terasa di sana bukan sesuatu yang bisa direncanakan, ia hadir begitu saja, tulus dan apa adanya.
Bagi Kelompok 2 Dusun Barisan, hari itu bukan hanya tentang membantu posyandu. Ini adalah pelajaran pertama bahwa pengabdian yang sesungguhnya dimulai dari kemauan untuk hadir, membaur, dan merasakan kehidupan warga dari dekat.
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin